ISMAIL RAJI AL FARUQI PDF

Faruqi mengenyam pendidikan yang menjadikannya mengauasai tiga bahasa Arab, Inggris, dan Prancis dan memberinya sumber-sumber intelektual multibudaya yang memberikanan informasi bagi kehidupan dan pemikirannya. Joseph di Palestina, dan memperoleh gelar sarjana muda di Universitas Amerika Serikat di Beirut Setelah menjadi Gubernur Galilee pada , dia terpaksa meninggalkan Palestina setelah pembentukan negara Israel pada ; kemudian memperoleh gelar master di universitas Indian dan Universitas Harvard serta gelar doktor filsafat dari Universitas Indiana Esposito, Selama 10 tahun dia tampil sebagai seorang Arab ahli waris modernisme Islam dan empirisme Barat, pada akhir an dan awal an dia secara progresif berperan sebagai sarjana aktivis Islam.

Author:Zulkizilkree Tojazuru
Country:Cayman Islands
Language:English (Spanish)
Genre:Politics
Published (Last):2 September 2010
Pages:146
PDF File Size:18.44 Mb
ePub File Size:13.80 Mb
ISBN:665-8-17063-903-1
Downloads:97267
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kaziktilar



Faruqi mengenyam pendidikan yang menjadikannya mengauasai tiga bahasa Arab, Inggris, dan Prancis dan memberinya sumber-sumber intelektual multibudaya yang memberikanan informasi bagi kehidupan dan pemikirannya.

Joseph di Palestina, dan memperoleh gelar sarjana muda di Universitas Amerika Serikat di Beirut Setelah menjadi Gubernur Galilee pada , dia terpaksa meninggalkan Palestina setelah pembentukan negara Israel pada ; kemudian memperoleh gelar master di universitas Indian dan Universitas Harvard serta gelar doktor filsafat dari Universitas Indiana Esposito, Selama 10 tahun dia tampil sebagai seorang Arab ahli waris modernisme Islam dan empirisme Barat, pada akhir an dan awal an dia secara progresif berperan sebagai sarjana aktivis Islam.

Islam dalam pandangan dia, merupakan suatu ideologi yang serba meliputi, identitas primer bagi suatu komunitas orang beriman umat sedunia dan prinsip pemandu bagi masyarakat dan budaya. Al-Faruqi mendasarkan interpretasi Islamnya pada doktrin tauhid keesaan Tuhan , memadukan penegasan klasik sentralitas keesaan Tuhan monoteis dengan interpretasi modernis ijtihad dan penerapan Islam dalam kehidupan modernis. Dalam kitabnya Tawhid: Its Implications for Thought and Life, dia melukiskan tauhid sebagai esensi pengalaman keagamaan, inti Islam, dan prinsip sejarah, pengetahuan, etika, estetika, umat komunitas Muslim , keluarga, serta tatanan politik sosial ekonomi, dan dunia.

Pandangan dunia Islam dari aktivis holistis ini terwujudkan dalam fase baru kehidupan dan kariernya ketika dia menulis secara ekstensif, memberikan kuliah dan berkonsultasi dengan berbagai gerakan Islam dan pemerintah nasional, serta mengorganisasikan kaum Muslim Amerika.

Selama an dia mendirikan program studi-studi Islam, merekrut dan melatih mahasiwa muslim, mengorganisasikan profesional muslim, membentuk dan mengetuai Panitia Pengarah dalam studi-studi Islam Akademi Agama Amerika , menjadi dan peserta aktif dialog antaragama internasional yang di dalamnya dia menjadi juru bicara utama Islam dalam dialog dengan agama-agama lain di dunia.

Faruqi adalah pendiri atau pemimpin banyak organisasi seperti Perhimpunan Mahasiswa Muslim dan sejumlah perhimpunan profesional Muslim seperti Perhimpunan Ilmuan Sosial Muslim.

Inti utama dari visi Faruqi adalah islamisasi pengetahuan. Dia menganggap kelumpuhan politik, ekonomi, dan religio-kultural umat Islam terutama merupakan akibat dualisme sistem pendidikan di dunia Muslim, dibantah hilangnya identitas dan tak adanya visi, dia yakin bahwa obatnya ada dua; mengkaji peradaban Islam dan islamisasi pengetahuan modern.

Pendidikan: Perspektif al-Faruqi Modernisasi Barat sangat berpengaruh terhadap kemajuan dunia pendidikan, namun keadaan pendidikan di dunia Islam dalam pandangan Faruqi merupakan fenomena yang terburuk.

Dia mensinyalir bahwa pendidikan Barat yang dijiplak di dunia Islam berubah menjadi sebuah karikatur dari prototype Barat. Materi-materi dan metodologi yang kini diajarkan di dunia Islam, hampir secara keseluruhan berkiblat pada Barat, padahal hasil dari jiplakan itu tidak mengandung wawasan yang menyeluruh.

Kata dia, …meteri dan metodologi yang hampa itu terus memberi pengaruh jelak yang mendeislamisasikan siswa, dengan berperan sebagai alternatif-alternatif bagi materi-materi dan metodologi Islam dan sebagai bantuan untuk mencapai kemajuan dan modernisasi Faruqi, Begitu pula dengan tenaga-tenaga pendidik, di universitas-universitas dunia Islam tidak memiliki wawasan vision Islam dan tidak didorong oleh cita-cita Islam. Kenyataan ini sudah pasti merupakan bencana yang begitu menyulitkan di dalam pendidikan Muslim.

Di setiap negara Islam, para mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi dibekali-sehubungan dengan wawasan Islam- dengan pengetahuan yang sedikit sekali mengenai Islam yang mereka peroleh di rumah atau di sekolah dasar dan menengah.

Jelas sekali, pengetahuan yang sedikit ini tidak merupakan wawasan dan cita-cita yang dapat diandalkan di masa depan. Oleh karena itu, secara ideologis seorang mahasiswa baru masuk sebagai tabula rasa masih bersih dari impresi-impresi. Ia boleh masuk dengan beberapa rasa sentimen, tetapi tidak dengan ide-ide.

Jelas sekali mereka akan digiring untuk tidak memiliki pertahanan-pertahanan, mereka tidak memiliki wawasan untuk melawan pada level ideasional. Jika mereka lulus, akan menjadi seorang atheis, sekularis, atau komunis sejati, wawasannya mengenai Islam surut ke alam personal, subyektif, dan ketergantungan sentimental kepada famili dan bangsa.

Perpaduan ini harus sedemikian sehingga sistem baru yang terpadu itu dapat memperoleh kedua macam keuntungan dari sistem yang terdahulu. Sumber-sumber finalsial negara dan keterlibatan kepada wawasan vision Islam.

Perpaduan sistem tersebut, haruslah merupakan kesempatan yang tepat untuk menghilangkan keburukan masing-masing sistem: tidak memadainya buku-buku pegangan yang telah usang dan guru-guru yang tak berpengalaman di dalam sistem yang tradisional, peniruan metode-metode dan ideal-ideal Barat sekuler di dalam sistem yang sekuler. Dengan demikian, kemungkinan untuk memperoleh keunggulan di dalam displin-disiplin Barat tidak didapatkan oleh siswa-siswa Muslim. Karena untuk mencapai keunggulan tersebut, yang pertama harus mempunyai persepsi terhadap totalitas pengetahuan di setiap lini bidang ilmu dan yang kedua, motivasi, karena sebuah ide pendorong untuk mencocokkan dan mensucikan totalitas dari ilmu itu.

Sudah saatnya bagi cendikiawan Muslim meninggalkan metode-metode asal tiru yang berbahaya itu dalam reformasi pendidikan. Bagi mereka reformasi pendidikan hendaklah islamisasi pengetahuan modern itu sendiri. Jadi tugas mereka adalah sama, walaupun dengan jangkauan yang luas, dengan yang dilakukan leluhur kita yang mencernakan pengetahuan pada zaman mereka dan menghasilkan warisan Islam berupa kultur dan peradaban.

Sebagai disiplin, segala sains harus disusun dan bangun ulang dengan diberikan dasar Islam yang baru, dan diberikan tujuan yang baru sesuai dengan misi Islam al-Faruqi, xi. Setiap disiplin harus dituangkan kembali sehingga terwujudkan prinsip-prinsip Islam di dalam metodologinya, di dalam strateginya, di dalam apa yang dikatakan sebagai data-datanya, problem-problemnya, tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasinya.

Setiap disiplin harus ditempa ulang sehingga mengungkapkan relevansi Islam sepanjang ketiga sumbu tauhid. Sumbu pertama adalah sumbu pengetahuan. Berdasarkan pengetahuan ini segala disiplin harus mencari obyektif yang rasional, pengetahuan yang kritis mengenai kebenaran. Dengan demikian bersifat aqli rasional dan beberapa sains lainnya bersifat naqli tidak rasional. Bahwa beberapa disiplin bersifat ilmiah dan mutlak sedang disiplin lainnya bersifat dogmatis dan relatif. Kedua, adalah kesatuan hidup.

Berdasarkan kesatuan hidup ini segala disiplin harus menyadari dan mengabdi kapada tujuan penciptaan. Dengan demikian tidak ada lagi pernyataan bahwa beberapa disiplin sarat nilai sedang disiplin- disiplin lainnnya bebas nilai atau netral. Sedang yang ketiga, adalah kesatuan sejarah. Berdasarkan kesatuan sejarah ini segala disiplin akan menerima sifat yang ummatis atau kemasyrakatan dari seluruh aktivitas manusia, dan mengabdi kepada tujuan-tujuan ummah di dalam sejarah.

Dengan demikian tidak ada lagi pembagian pengetahuan ke dalam sains-sains yang bersifat indivual dan sains-sains yang bersifat sosial, sehingga semua disiplin tersebut bersifat humanistis dan ummatis. Gagasan Islamisasi Pengetahuan Di dunia Islam, lahirnya gagasan islamisasi pengetahuan sebenarnya berawal dari gagasan Seyyed Hossen Nasr, yang digelindingkan mulai pada tahun dengan karya monumentalnya The Encounter of Man and Nature, gagasan ini kemudian menjadi bahan pembicaraan yang penting dalam Konferensi Dunia I tentang Pendidikan Muslim di Makkah pada Dalam pertemuan itu dua cendekiawan muslim kaliber internasional Syed Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi, berbicara tentang perlunya membangun suatu epistemologi Islam Arifin, Munculnya gagasan islamisasi pengetahuan berangkat dari adanya suatu kesadaran teologis dan etis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan atas dasar pandangan dunia Islam, setelah disadari paradigma pengetahuan modern banyak mendatangkan dampak negatif terhadap perkembangan peradaban manusia modern.

Munculnya dampak ini sebagai konsekuensi dari dasar filsafat keilmuan yang meliputi aspek metafisika, epistemologi dan aksiologi yang secara eksplisit tidak mempunyai keterkaitan dengan kepentingan moralitas manusia.

Selanjutnya, keringnya nilai-nilai etik dan moral, menjadikan sains modern dalam tataran aksiologinya seringkali menafikan kemaslahatan manusia. Apa yang sekarang dosebut sebagai krisis global, menunjukkan adanya keterpecahan antara nilai-nilai etik dengan sains modern yang berkembang dalam kerangka netralitas etik free value.

Meskipun frase islamisasi pengetahuan itu baru, daya dorong umum dibelakangnya bukanlah hal baru. Kebutuhan berulang untuk melihat pendekatan terhadap pengetahuan dan realitas di dalam kerangka Islam muncul ketika sarjana Muslim merasakan adanya ancaman serius terhadap Islam dan kebutuhan untuk menekankan kembali batas-batasnya. Persepsi yang berbeda meskipun jelas sama tentang ancaman, melahirkan tuntutan akan islamisasi pengetahuan. Sarjana muslim kontemporer berpendapat bahwa meskipun bangsa mereka telah bebas dari kekuasaan penjajah, pengaruh budaya dan intelektual Barat masih mendominasi.

Khususnya, pengetahuan itu sendiri mencerminkan pengaruh ini dalam disiplin-disiplin yang diajarkan di Universitas dan di jurnal-jurnal yang diterbitkan dalam bahasa Eropa serta dijual kepada orang-orang elit.

Untuk melawan kecenderungan yang semakin kuat ini, yang pertama-tama dibutuhkan adalah mengkaji ulang disiplin-disiplin utama, seperti ekonomi, antropologi dan lain-lain.

Kemudian merumuskan bagaimana disiplin tersebut dapat mencerminkan pemikiran Islam autentik. Pendekatan pada disiplin yang melampaui disiplin itu sendiri perlu dibuat dalam kerangka yang lebih islami. Perkembangan teknologi komunikasi membantu menciptakan jaringan global yang memudahkan pertukaran gagasan. Sarjana menemukan adanya rasa haus akan penafsiran Islam tentang pengetahuan di mana pun kaum muslim tinggal. Fakta bahwa para sarjana ini berasal dari berbagai negara dan mewakili berbagai disiplin menambah prestise dan kredibilitas upaya tersebut.

Para sarjana kini menghadapi ide-ide yang terbentuk di sekitar gagasan islamisasi pengetahuan. Salah seorang sarjana teraktif dan komit dari generasinya, Ismail Raji al-Faruqi, seorang Palestina yang menetap di Amerika serikat, membantu meluncurkan Institut Pemikiran Islam Internasional, yang menjadi tokoh besar intelektual, yang memberikan gagasan dan publikasi yang diikuti dunia; sebuah program besar diprakarsai untuk mengkaji setiap disiplin akademis utama dari sudut pandang islamisasi pengetahuan Abu Sulayman, Tragisnya, al-Faruqi terbunuh pada ketika terbit studi pertama seri ini.

Dalam prakatanya untuk studi ini, dia mendefinisikan usaha ini: Program ini, yang dipahami dan dan dikristalisasikan dalam sejumlah simposium tentang subjek ini, terdiri atas dua belas langkah yang dirancang untuk menjalankan islamisasi pengetahuan di berbagai disiplin pengetahuan.

Sebagian langkah itu berupaya menyurvai dan mengevaluasi prestasi Barat Modern. Sebagian lainnya berbuat sama terhadap warisan pengetahuan muslim. Tujuannya ialah menguasai sepenuhnya setiap disiplin dan mempersiapkan disiplin itu dibangun kembali di atas landasan Islam.

Ini berarti mengoreksi prasangka dan kesalahannya, mengeliminasi kelemahannya, dan memperbaiki metodologi serta aspirasinya al-Faruqi, Prakata dalam Akbar S. Ahmed, Al-Faruqi memperingatkan kaum muslim tentang perlunya keseksamaan dan integritas kerja mereka.

Ia tidak ingin mengganti satu jenis dogma dengan lainnya: Islamisasi bukanlah berarti subordinasi khazanah pengetahuan dibawah prinsip-prinsio dogmatis atau tujuan-tujuan serampangan, melainkan pembebasan dari Shackles semacam itu.

Islam memandang semua jenis pengetahuan sebagai hal yang universal, bermanfaat, dan rasional. Akibatnya, disiplin yang terislamisasi yang kita harapkan dapat dicapai pada masa mendatang, akan membuka halaman baru dalam sejarah semangat kemanusiaan, dan akan membawanya lebih dekat ke arah kebenaran Akbar S. Ahmed, 7. Karya-karya al-Faruqi Karya yang dihasilkan dari pemikiran al-Faruqi dapat kita jumpai dalam bentuk karya asli maupun terjemahan.

Sebagian besar karyanya berbicara tentang dialektika Islam modern dan mencurahkan perhatiannya tentang islamisasi sains. Ide-idenya selalu menampilkan wacana yang mengarah kepada ketahidan. Berikut ini beberapa karya-karyanya: 1. On Arabism 4 Jilid. Amsterdam, Christian Ethics, montreal, Cotter, New York, Studies in Islam, Islam and Culture, Kuala Lumpur, Essays in Islamic and Comparative Studies. Washington D. Islamization of Knowledge. Islamabad, Tawhid: Its Implications for Thought and Life.

Herndon, Dari sekian banyak karya yang dia ditulis, sebagian besar berbicara tentang islamisasi pengetahuan. Dia menggarisbawahi tentang perlunya kesadaran tauhid sebagai landasan bagi setiap disiplin ilmu. Bahkan, dalam beberapa karyanya dia merekomendasikan perlunya sebuah islamisasi ilmu-ilmu sosial. Catatan Akhir Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa al-Faruqi menyoroti tentang kekaburan dunia Islam dalam mengembangkan pendidikan yang hampir keseluruhan tengah meniru model yang dikembangkan di Barat, dengan tanpa mengelaborasi lebih jauh.

Padahal segala apa yang datang dari Barat belum tentu sesuai dengan konsep dan kultur yang ada dalam dunia Islam. Dengan latar belakang itu, Formula yang ditawarkan oleh al-Faruqi adalah perlunya islamisasi pengetahuan.

KGD SAMSUNG PDF

Ismail al-Faruqi

But, at the same time, he was never lost in mere philosophical abstractions. He was acutely conscious of the realities of the time and the condition of the contemporary Ummah. In this regard, he exemplified the conjunction between theoretical learning, Ilm, and the righteous deeds, Amal Saalih. He devoted the best years of his life, before his death under tragic circumstances, to the upliftment of the Ummah, in inspiring and guiding its youth especially. There is consensus, however, that the al-Faruqis hailed from one of the most influential and respected families in the region with ancestral roots at Ramleh. Joseph that al-Faruqi gained his high school diploma in

FORMATION ARTLANTIS STUDIO PDF

ISMAIL RAJI, AL-FARUQI (1921-1986 C.E.)

Faruqi received his religious education at home from his father and in the local mosque. His first appointment was as a registrar of cooperative societies under the British Mandate government in Jerusalem , which appointed him in the district governor of Galilee. Such recognition could justify carving out a conceptual as well as practical space for the emergence of a critique of post-Enlightenment Reason from the standpoint of a non-Western philosopher. However, he decided to return to Indiana University; he submitted his thesis to the Department of Philosophy and received his PhD in September By then he had a background in classical philosophy and the developing thought of the western tradition. At the beginning of , he and his wife were in Syria. He then moved to Egypt , where he studied at Al-Azhar University — again with a view to acquiring another PhD.

L ALCHIMISTE BENSUSAN PDF

Oleh: Mushlihin, S. Ia dikenal luas sebagai cendekiawan Islam dan cendekiawan religius komparatif. Ia juga dikenal sebagai penyelenggara Pan-Islamisme. Memulai studi di College des Freres Lebanon. Pada , ia melanjutkan kuliah di American University, Beirut.

Related Articles